|
Kuliah ini dibawakan oleh Pak Buntoro, seorang entrepreneur yang berjaya di masanya, dan telah mendapat nominasi penghargaan untuk itu. Kami, para mahasiswa tingkat satu dipercayakan untuk mengemban mata kuliah ini dan menjalankannya. Yah, semoga saja bermanfaat bagi kami semua nantinya, ya Pak! Menjadi seorang entrepeneur adalah sebuah pilihan, pilihan yang tentu takkan bisa dicapai semua orang. Jalan hidup tiap orang berbeda, begitu kata Pak Budi. Mungkin ada yang lebih nyaman untuk menjadi profesional, ada juga yang lebih nyaman menjadi wiraswasta. Itu semua hanya faktor pilihan dan kesempatan. Entrepreneur, menurut Pak Buntoro, harus memiliki dua kemampuan mendasar yang vital. Pertama adalah kemampuan memandang dan mempersiapkan masa depan. Hidup seorang entrepreneur tidak terus-terusan berlanjut. Bukan seperti sebuah gelar, yang akan terus menempel, tapi dibutuhkan perjuangan tiap harinya. Ini berarti, menjadi entrepreneur adalah tantangan yang baru setiap harinya. Kemampuan yang kedua adalah mampu mengeksekusi pada saatnya. Tak banyak yang bisa melakukan hal ini, bila kita memiliki persimpangan jalan pada suatu masalah di masa depan, dan tak mampu memilih dengan tanggap, (tidak harus tepat) bisa saja muncul masalah baru. Hal yang menarik adalah, entrepreneur tidak melulu menjadi sekedar saudagar, penjual, dan lain-lainnya, masih banyak hal yang perlu dilakukan. Langkah awal bagi orang yang ingin mencobanya adalah harus termotivasi dan berani mencoba dalam tiap langkahnya. Menjadi entrepreneur memang akan selalu menimbulkan presentase kegagalan yang lebih besar dibanding pekerjaan lain, tapi itu semua memang sebanding. Menjadi entrepreneur memang tidak mudah. Modal menjadi entrepreneur di antara lain harus berani menjual diri, dalam arti kata, bekerja agar mendapat modal awal. Tentunya, diperlukan harga yang pantas untuk membayar diri, dan dengan itu juga diperlukan pengetahuan diri tentang seberapa pantas diri kita untuk dibayar. Tapi yang perlu diingat adalah, uang bukanlah hal paling wahid di dunia bisnis, karena uang seringkali datang dengan sendirinya. Yang diperlukan adalah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan ekspetasi masa depan. Basis dari menjadi entrepreneur adalah ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan bisnis. Tentunya, entrepreneur harus juga dilihat dari proses belajar. Menemukan strategi yang benar dengan membuat kesalahan adalah sesuatu hal yang wajar. Bukan sebuah keanehan bila berbuat salah, yang penting adalah tidak mengulanginya lagi. Lagipula, tidak pernah ada suatu strategi yang pas untuk setiap permasalahan. Strategi ini nantinya akan ditemukan berdasarkan pengalaman. Selain proses belajar, dibutuhkan juga persistensi dari entrepreneur. Tak mungkin bisa bangkit tanpa ada rasa ketahanan. Banyak sekali hal yang perlu dipelajari berdasarkan pengalaman, ini jugalah yang mendorong entrepreneur sebaiknya dimulai dari masa muda sebagai investasi umur. Bagaimanapun juga, keberhasilan entrepreneur tidak bisa dilihat dari segi keuangan saja, tapi dari jumlah karya yang telah dilakukan secara individu. Agar menjadi sempuna dalam hal ini, diperlukan kemampuan mengembangkan kegagalan agar menjadi lebih baik. Menjadi seorang entrepeneur memang berlika-liku, tapi itulah jalannya. Menjadi entrepreneur berarti juga menjadi sesuai yang dirancang. Ini berarti perlu kejelasan dalam hidup kita, rancangan hidup kita harus tertata rapi mulai saat ini. |
| lesly May 8, 2008 08:53 PM PDT tulisan yang menyegarkan. terima kasih sudah mengulasnya :) | ||
| anbarsanti January 15, 2008 11:16 AM PST mereka bilang,, "kapitalisme yang mempunyai hati" mwahahaha mana ada... | ||
| Leave a Comment: |