Entry: pemisahan sampah... guna gitu? Saturday, September 15, 2007



Sebagai imud (baca : ijo muda nya ugreen)... kemaren py jalan-jalan ke rumah kompos. Satu hal yang nggak disangka adalah, rumah kompos itu terletak deket itb. Di sabuga. Ha! ~py nggak pernah tau ada hal seperti itu di sana...

Kami, imud-imud diberi tau banyak hal oleh ijo tua,, (angkatan pertama ugreen) tentang pembuatan kompos dan pengolahan sampah di itb. Tentang pengolohan sampah, sebetulnya sudah ada pemisahan sampah berdasarkan yang dapat busuk dan tidak di itb. Itu dapat dilihat dari tong-tong sampah yang ada. Bahkan terdapat juga tong sampah khusus, bertuliskan " Bahan Berbahaya Beracun " alias B3, letaknya khusus di prodi-prodi yang sering berhadapan dengan zat-zat kimia B3 tadi.

Tapi sayangnya, oh sayang.. Mahasiswa-mahasiswi itb masih belum mendukung sepenuhnya. Rata-rata dari mereka masih enggan untuk memisahkan jenis sampah yang mereka buang. Banyak yang mengira bahwa nantinya juga akan dipisahkan di rumah kompos. Oke, pendapat mereka memang benar. Tapi,,, nah itu dia tapi.. akan py jelasin kenapa..

Sebelumnya, py cerita dulu sejenak tentang kunjungan ke rumah kompos. Di rumah kompos, truk-truk sampah setiap harinya bisa datang hingga 6 truk. Tentunya dengan sampah yang sudah dipisah berdasarkan jenisnya. Sesampainya di rumah kompos, ternyata masih ada sampah yang tercampur. Maka, para pegawai rumah kompos harus memisahkannya secara manual. Setelah itu, sampah organik akan diproses untuk menjadi kompos dengan bantuan alat-alat dan zat kimia tertentu.

Sisanya, sampah anorganik, akan dipisahkan lagi berdasarkan sampah yang masih memiliki daya jual dan tidaknya. Bagi yang memilikinya, akan dijual kembali dan sisanya akan diproses melalui sebuah alat bernama insenarator (bener nggak ya, nulisnya..?). Bahan-bahan yang berlapiskan zat kimia tidak boleh masuk kesini (misal kaleng soft drink) karena akan meledak di dalam.

Nah, barang-barang sisanya akan dibakar karena insenarator ini tidak mungkin memproses semua sampah anorganik. Karena begitu banyaknya sampah anorganik yang datang. Padahal bila harus ditunda hingga esok hari, sampah hari esok juga akan datang dan akan menghasilkan akumulasi yang terus meningkat. Karena itu, sisa sampah yang tak terproses akan dibakar. Sementara itu, dilihat dari hasil buangan insenarator, akan dihasilkan abu. Sayangnya, abu ini masih tidak diketahui dapat dibergunakan sebagai apa. Masih tanda tanya. Abu-abu ini akan dibuang di jalan (di dekat rumah kompos) karena tidak diketahui fungsinya.

Lha, itu dia.. yang menyebabkan insenerator tidak bekerja efektif adalah ketidakcukupannya sampah yang harus diproses di dalamnya. Mengapa? Ini karena metode pemisahan manual oleh para pegawai. Hal ini tentunya tidak akan efektif. Begitu banyak sampah yang datang dan harus dipisah satu persatu oleh para pegawai yang jumlahnya tidak sebanding dengan 'pemberi' sampah. Kalau saja kami, para 'pemberi' ini sudah memisahkannya dari awal kami 'memberikannya' pastilah, akan ada kemudahan pada proses ini. Tentunya juga akan memberikan kemudahan dan penyelesaian masalah insenerator.

Sekarang kita semua saling bantu membantu dalam proses pemisahan sampah dari dibuangnya ya! Walau sepele dan nantinya akan dipisahkan secara manual, tapi bila kita bisa, mengapa tidak?

   1 komentar

mimi
September 11, 2009   05:17 AM PDT
 
oke juga rumah kompos, harusnya setiap warga sudah memisahkan sampah organik dan anorganik, hal ini akan mempercepat proses pembuatan kompos. di lingkugan sekolah kami hal ini sudah dilakukan, ada 2 tempat sampah, satu organik dan satu lagi anorganik, kebiasaan ini lebih mudah diperkenalkan sejak anak2 usia dini,

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments